Sabtu, 17 April 2010

aku suka naik kereta api

Naik kereta api, tut tut tut…

Siapa hendak turut, ke bandung Surabaya..

Ayolah naik dengan percuma, ayo kawanku lekas naik..

Keretaku tak berhenti lama..


Lirik di atas adalah lirik lagu yang dinyanyikan adik saya ayu saat melihat kereta api di televisi. Maklum anak TK lagi asik-asiknya berdendang dengan tingkah polahnya yang lucu dan menggemaskan walaw kadang terkesan lebih “membari muar” kata orang banjar :) hehehe. Di sela-sela waktu dia bertanya pada saya kenapa kalau kereta api berjalan ada suaranya tidak seperti mobil yang terkesan lebih “pendiam”? lalu saya menjawab karena jalan tempat kereta api itu tidak lurus, ada celah-celah di antara sambungan rel kereta api (menjelaskan dgn mimik wajah serius). Setelah mendengar penjelasan saya dia hanya mengangguk-anggukkan kepala “seolah-olah” mengerti padahal tentu saja dia tidak mengerti :). Kemudian saya berpikir kenapa di antara sambungan rel harus ada celah-celah?


Setelah saya membaca cukup materi baru saya tahu kegunaan si celah pada sambungan rel kereta api. Celah-celah yang ada di sambungan rel kereta api tenyata adalah tempat untuk memuai. Sudah menjadi hukum alam, bahwa semua benda akan “memuai” jika di panaskan dan “menyusut” jika didinginkan. Nah celah-celah tersebut memberikan kesempatan pada batang besi sambungan rel kereta untuk memuai. Celah yang ada membuat pemuaian batang besi tidak menyebabkan besi menjadi bengkok namun tetap lurus sesuai dengan jalurnya. Jika besi menjadi bengkok saat pemuaian terjadi hal tersebut dapat mengubah susunan sambungan rel yang dapat berakibat buruk bagi kereta api yang melintas di atasnya. Akibatnya dapat terjadi kecelakaan kereta api dan ambrolnya gerbong kereta api. Si celah yang kadang di anggap remeh ini adalah penyelamat bagi penumpang kereta api. Tak perlu takut untuk naik kereta api walau jalannya selalu “bersuara” karena selama si celah selalu ada perjalanan kita akan tetap aman :) tak salah jika AKU SUKA NAIK KERETA API…

0 komentar:

Posting Komentar